Sejarah Pendirian Partai

October 8, 2008

Sejarah Pendirian Partai

  • Pendirian Partai HANURA dirintis oleh Wiranto bersama tokoh-tokoh nasional yang menggelar pertemuan di Jakarta pada tanggal 13-14 November 2006.
  • Forum tersebut melahirkan delapan kesepakatan penting sebagai berikut.
    1. Dengan memperhatikan kondisi lingkungan global, regional, dan nasional, serta kinerja pemerintahan RI selama ini, mengisyaratkan bahwa sejatinya Indonesia belum berhasil mewujudkan apa yang diamanatkan UUD 1945.
    2. Memperhatikan kinerja pemerintahan sekarang ini maka kemungkinan tiga tahun yang akan datang akan sulit diharapkan adanya perubahan yang cukup signifikan, menyangkut perbaikan nasib bangsa.
    3. Oleh sebab itu perjuangan untuk mewujudkan terjadinya sirkulasi kepemimpinan nasional dan pemerintahan bukan lagi untuk memenuhi ambisi perorangan atau kelompok, namun merupakan perjuangan bersama untuk menyelamatkan masa depan bangsa.
    4. Perjuangan itu membutuhkan keberanian untuk menyusun strategi jangka panjang pada keseluruhan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara guna mengembalikan kemandirian dan kebanggaan kita sebagai bangsa.
    5. Untuk itu diperlukan kepemimpimpinan yang jujur, bijak, dan berani yang dapat menggalang persatuan, kebersamaan, dan keikhlasan, sebagaimana dahulu para pendahulu kita ‘berhimpun bersama sebagai bangsa untuk mencapai kemerdekaan’. Sekarang saatnya kita berhimpun kembali sebagai bangsa guna menyelamatkan negeri kita.6.
    6. Kita kembangkan semangat perjuangan, ‘Semua untuk satu, satu untuk semua’. Artinya, semua harus memberikan yang terbaik untuk satu tujuan bersama, yakni membentuk pemerintahan yang jujur dan berkualitas. Selanjutnya, pemerintahan itu benar-benar akan bekerja semata-mata untuk kepentingan rakyat Indonesia.
    7. Perjuangan itu akan kita wadahi dalam sebuah partai politik.
    8. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati dan melindungi perjuangan yang tulus dan ikhlas ini demi masa depan Indonesia yang kita cintai bersama.
  • Delapan kesepakatan itu kemudian ditindaklanjuti dalam wadah partai politik bernama Partai Hati Nurani Rakyat, disingkat Partai HANURA. Pendeklarasian partai ini diselenggarakan pada tanggal 21 Desember 2006 di Jakarta.
  • Komposisi dewan pendiri Partai HANURA di antaranya adalah: Jend. TNI (Purn) Wiranto, Yus Usman Sumanegara, Dr. Fuad Bawazier, Dr. Tuti Alawiyah AS., Jend. TNI (Purn) Fachrul Razi, Laks TNI (Purn) Bernard Kent Sondakh, Prof. Dr. Achmad Sutarmadi, Prof. Dr. Max Wullur, Prof. Dr. Azzam Sam Yasin, Jend. TNI (Purn) Subagyo HS., Jend. Pol (Purn) Chaeruddin Ismail, Samuel Koto, LetJen. TNI (Purn) Suaidi Marasabessy, Marsdya TNI (Purn) Budhy Santoso, Djafar Badjeber, Uga Usman Wiranto, Letjen. TNI (Purn) Ary Mardjono, Elza Syarief, Nicolaus Daryanto, Anwar Fuadi, Dr. Teguh Samudra dan lain-lain.

Kembali ke atas

2 Responses to “Sejarah Pendirian Partai”

  1. husnul said

    Ass.ww. Semoga setiap langkah kita memang semata ditujukan untuk Alloh dan untuk meninggikan agamaNya. Semoga, saat kita menghadap keharibaanNya, kita punya hujjah atas tiap nafas, pikir, ucap dan karya kita di kehidupan yang fana ini.
    Ibu yang saya hormati,
    Saya membaca suara pembaca dari ibu yang dimuat di detik.com mengenai pandangan ibu terhadap orang-orang yang memilih untuk tidak memilih (golput) dalam pemilu. Saya pikir problem mendasarnya adalah pada mandulnya peran parpol dalam melakukan pendidikan politik kepada masyarakat. Fenomena golput –di luar konteks golpun yang dilandasi kesadaran– menurut saya hanya ekses saja. Selama ini, parpol lebih banyak fokus pada kegiatan-kegiatan artifisial yang hanya menyentuh sisi emosi masyarakat, tak terkecuali parpol yang dianggap ‘masih bersih dan idealis’ sekalipun. Sehingga kritik atas kondisi yang ada dan janji perubahan yang ditawarkan melalui iklan-iklan politik, kampanye, maupun pendekatan massif dalam rangka rekrutmen kader dan simpatisan partai lagi-lagi tak membuat masyarakat sadar dengan sesadar-sadarnya tentang akar masalah berbagai krisis, kemana arah perubahan dan dengan konsep seperti apa perubahan itu akan dijalankan. Terlebih selama ini, parpol belum ada yang nampak membawa konsep perubahan alternatif, selain hanya menawarkan ‘orang baru’ dengan embel-embel ‘masih bersih dan idealis’. Wajar jika, ketika masyarakat melihat ‘orang-orang bersih dan idealis’ yang semula mereka harapkan bisa membawa perubahan ternyata ‘terjebak dalam mesin politik besi bernama demokrasi’, mereka kemudian kecewa dan karena terus berulang ujung-ujungnya menjadi apatis.
    Saya ingin mengatakan, bahwa problem mendasar kita bukan cuma masalah siapa yang menjadi pemimpin (caleg), bersih atau tidak, suka korupsi atau tidak, amanah atau tidak, tapi juga paradigna dab konsep apa yang ditawarkan untuk mengatur negara. Plattform yang bagus belum tentu menunjukkan bahwa parpol siap menjadi problem solver. Jika Cara pandang terhadap akar masalah krisis, analisis dan solusinya masih pake teori-teori dan konsep yang dipake para stakeholder yang sedang berkuasa, sama aja boong kan bu? Misal, bagaimana parpol memandang masalah krisis keuangan global yang tak dipungkiri akan membuat ekonomi kita juga babak belur dan berarti rakyat makin menderita? Ini kan bukan cuma terkait dengan masalah pentingnya pemberantasan korupsi, tetapi bagaimana melepaskan negeri ini dari cengkraman sistem ekonomi kapitalisme global yang secara struktural ternyata kita fasilitasi dalam bentuk kebijakan2 ekonomi dan politik. Ekonomi berbasis riba, privatisasi, keberpihakan kepada asing, politik yang mengekor bahkan menghamba pada kepentingan adikuasa.. bukankah ini persoalan yang tidak sederhana? Siapkah parpol dengan solusi alternatif? Jika kapitalisme nyata-nyata menjadi sumber kebobrokan, lantas apa yang akan ditawarkan oleh parpol? Ekonomi kerakyatan, seperti apa?.. politik yang mandiri, seperti apa? …
    Jadi, bu. Jangan salahkan masyarakat. Sekalipun mungkin tak sedikit diantara mereka yang golput karena ‘kekurangsadaran’, akan tetapi kembali itu adalah hasil kerja kita selama ini. Selama ini, kita memang tidak pernah berupaya menyadarkan mereka dengan kesadaran yang mendasar.. yang membuat mereka siap mendukung dan mengawal perubahan yang kita tawarkan, dengan keyakinan bahwa kita memang membawa solusi tuntas atas setiap persoalan. Jangan-jangan, kita tak beda dengan yang lainnya, semata memanfaatkan masyarakat demi kepentingan kita dan kelompok kita.
    Terakhir, semoga ibu mau mengapresiasi pilihan sebagian kalangan yang saat ini masih memilih untuk tidak memilih karena kesadaran. Yakin,bu.. mereka berbuat karena alasan.. Dan mereka juga sedang berjuang untuk melakukan perubahan, meski jalan yang ditempuh, bukan dengan jalan yang selama ini diyakini sebagai satu-satunya jalan perubahan. Merekalah yang selama ini justru concern meretas jalan perubahan, yakni dengan jalan mendidik dan membina masyarakat dengan kesadaran politik yang benar. Kesadaran politik Islam ideologi yang menjadi satu-satunya alternatif solusi atas semua krisis buah kapitalisme yang terjadi.
    Mohon maaf. Wass.

  2. Pemantau said

    Saya barusan membaca tulisan anda, di suara pembaca detik.com.
    Pertama saya kira anda tidak setuju atas adanya orang yang memilih untuk tidak memilih di sebabkan alasan yang cukup bagus. Misalnya seperti yang ada tulis bahawa masih ada anggota DPR yang berhati nurani dan beritanya ketutupi oleh yang korupsi.
    Artinya anda juga sudah mengakui bahwa yang korupsi jauh lebih banyak dari pada yang tidak korupsi. Kemudian juga anda katakan bahwa masih ada anggota dewan yang memikirkan anda, untuk ini anda benar. Tapi anda keliru anggota memikirkan rakyat sesudah memikirkan dirinya terlebih dahulu. Artinya korupsi yang dialkukan anggota dewan adalah di atas perbuatan atau alasan untuk rakyat.
    Yang saya kaget di bawah tulisan anda anda ternyata salah seorang caleg, rupanya pantas anda tidak setuju dengan orang golput.
    Anda harus yakin bahwa 90% golput tidak akan menghalangi anda untuk jadi anggota dewan. Saya rasa untuk anda mungkin malahan menguntungkan semangkin banyak orang golput semangkin baik untuk anda.
    Selamat menikmati!

Leave a Reply